Sastra

Ayya, Putri Kecilku Dari Langit (Sebuah Kisah Nyata Menyentak Hati Ketika Tsunami Menghempas Aceh)

Published

on

Ayya, Putri Kecilku Dari Langit (Sebuah Kisah Nyata Menyentak Hati Ketika Tsunami Menghempas Aceh)

Oleh : Mba Yuna

Pagi itu 26 Desember 2004 adalah pagi yang sangat indah bagiku, betapa tidak pagi itu adalah merupakan pagi pertama aku dengan istriku Fatma menempati rumah baru kecilku yang kubangun atas hasil keringatku menjadi seorang nelayan. Rumah kecil yang kubangun dihantaran sungai kecil dipantai Ulee Lheu Banda aceh.

Di halaman rumah kecilku aku bisa menikmati ramainya para pengunjung yang melepaskan kebahagiaan pada setiap harinya di pantai Ule Lheu. Seperti halnya minggu pagi ini, terlihat banyak para pengunjung berdatangan, baik itu dari dalam kota maupun luar kota Banda aceh yang kesemuaannya ingin menikmati akhir tahun.

“Abi tolong belikan sayur ya, kita ingin masak sayur lodeh nih hari ini,” Fatma membuyar lamunanku yang sejak dari tadi melamun sendiri melihat hilir mudiknya para pengunjung pantai yang lewat depan rumah kecilku

“Iya,” sahutku, dan menoleh ke a rah isteriku yang sedang menina bobokan putrid pertama kami Shinta.

“ Iya, tapi tulis resepnya ya,” sahutku

Fatmapun berdiri mengambil secirik kertas dan pulpen, menulis apa saja yang akan ku belanjakan di pasar nantinya.

“Ini, jangan lupa santannya yang jadi aja dibeli ya,” Fatma mengingatkanku, karena memang kami belum punya alat kukur kelapa di rumah, maklumlah rumah baru, dan baru semalam menghuni.

Sebelum berangkat aku melihat sejenak ke dalam ayunan, dan kulihat Shinta putri kecilku yang baru berusia tiga belas bulan sudah tertidur pulas. Terlelap dalam hembus angin pagi pantai Ulee yang terkenal sangat sejuk, yang perlahan masuk kesetiap ruang kecil rumahku.

“Tidur pulas ya sayang, sampai Umi siap memasak nanti,” bisikku pada telinga kecilnya.

“Sudahlah, pergi aja. Nanti dia terbangun,” Fatma berbisik padaku, seakan suaranya tidak ingin membangukan putri tercinta kami.

Dalam perjalanan ke Pasar Aceh, aku melihat banyak orang berkerumun di Blang Padang, entah ada acara apa.” Mungkin ada acara perlombaan akhir tahun,” batinku. 

Sesampai di pasar Aceh aku membeli semua bahan yang sudah dicatat istriku, tapi ada satu yang tidak tersedia di sana yaitu udang kecil untuk pepesan. Jadinya aku melanjutkan pencarian pesanan udang kecil tersebut ke pasar Peunayong. Yang merupakan pasar terlengkap di kota Banda Aceh.

Tepat baru menaiki jembatan Peunayong, aku merasakan kenderaanku seperti oleng, oleng dengan kencangnya seakan membuatku ingin terjatuh.

“Gempa, gempa, gempa,” terdengar suara orang-orang berteriak.

Akupun berhenti di atas jembatan

“Lailahaillallah Muhammadurrasullullah,” ku ucapkan kalimah dengan serta merta

Bumi terasa bergerak, debu berterbangan, suara gemuruh benda-benda jatuh membuat bulu kudukku merinding.

Orang-orang terlihat keluar dari bangunan, karena takut tertimpa benda-benda yang terhempas oleh dahsyatnya hantaman gempa.

Selang beberapa waktu gempa mulai reda, nun dari kejauhan aku dengar ada suara dentuman entah dari mana datangnya, sebanyak dua kali, begitu kerasnya.

Aku melanjutkan perjalananku menuju ke pasar ikan yang letaknya hanya beberapa meter dari jembatan. Tiba di sana aku cepat-cepat membeli udang pesanan istriku. Dan secepatnya ingin kembali pulang ke rumah.

“Air laut naik, air laut naik,” kudengar teriakan di sana-sini. Saat itu aku mulai panik. Dan sangat panic.

Aku melajukan kenderaanku sekencang-kencangnya.

Melalui orang-orang berlarian menyelamatkan diri, di sepanjang jalan Kedah sampai ke Blang Padang

“Mana mungkin air laut naik kedaratan ,” gumamku

“Ya Allah, lindungi keluargaku,” doaku dalam hatiku

“Naas bagiku kiranya, kenderaanku tidak bisa melawan arus manusia yang lari ingin menyelamatkan diri.

Kuhempaskan kenderaanku, tak peduli lagi dengan belanjaan pesanan istriku, akupun mencoba berlari pulang 

Hanya sampai di Punge Jurong, aku melihat kabut hitam perlahan bergerak mengarah kearahku, tapi aku tetap berlari menuju kabut itu. Hanya satu keinginanku, yaitu ingin bertemu Fatma istriku dan Shinta Anakku.

“Pak, jangan kesana pak, Air laut naik,” seseorang yang mungkin tetanggaku, atau siapa, mengingatkanku untuk balik arah.

Aku terhenyak begitu sampai tepat di lidah air Bah yang berwarna hitam.

“Naik, naik kebatang asam bang, naik,” ku dengar teriakan itu.

Hanya pohon asam yang tumbuh berbaris di kiri kanan jalan antara Banda Aceh - Ulee satu-satunya tempat untuk menyelamatkan diri.

Saling berebutan menaiki batang pohon asam membuat badanku terhempas ke bawah, aku berusaha melawan arus di antara puing-puing bangunan. Berusaha memegang benda-benda agar tidak tenggelam.

Dan akhirnya aku tidak sadar diri, aku sudah pasrah seandainya Tuhan menjemputku saat itu.

                                      --------------------------

Perlahan aku membuka mataku, ku lihat di sekilingku. Di mana aku? Tidak ada lagi kehidupan, hanya tumpukan bekas reruntuhan, batang-batang pohon dan genangan air hitam disekelilingku.

Seluruh badanku terasa sakit, banyak luka disana disini.

Ku caba berdiri, dan aku baru sadar kalau aku sekarang berada di daerah lain yaitu daerah Lam Bada, yang berarti aku terseret arus begitu jauh.

“Tuhan, kiranya aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan keluarga kecilku,”batinku.

Dengan tertatih aku mencoba berjalan di antara tumpukan reruntuhan, di antara manyat-manyat yang bergelimpangan, didalam rasa sedihku yang melebihi dahsyatnya arus yang menghantamku tadi.

Berjalan, dan terus berjalan menaiki reruntuhan, mengangkat jasad-jasad yang sudah terbaring kaku, menutupnya dengan apa yang kudapati disekelilingku.

Hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri.

Entah dalam waktu yang berapa lama.

                              -------------------------

“Pak Yusuf, pak Yusuf,” samar kudengar suara itu 

“Di mana aku?,” tanyaku

“Bapak sekarang berada di cem pungungsian pak,” jelas orang itu.

“Di mana anakku dok, di mana putriku?,” tanyaku seraya merasakan keadaanku yang sudah sangat lemah

“Sabar pak, kita dari team penyelamat akan segera mencari siapapun korban yang selamat, termasuk putri dan isteri bapak,” jelas orang itu yang ternyata adalah salah satu dari regu penolong.

“Bapak, ini putri bapak? Dia kami temukan bersama bapak saat itu,” seorang perawat menunjukkan padaku.

Kulihat ke samping, pada salah satu sosok kecil yang terbaring di dekatku. Hampir seumuran dengan puriku.

Ingin aku berdiri, tapi kakiku. 

“Kaki bapak terpaksa harus di amputasi pak,” jelas orang itu lagi.

“Tanggal berapa sekarang dok?,” tanyaku

“ Tanggal 20 januari 2005?,”tanyaku pada diri

“Berarti…,”

“Bapak hampir satu bulan tidak sadarkan diri, “ 

“Oh tuhan,” akupun menangis sejadi-jadinya. Kulihat disekelilingku, begitu menyanyat hati.

Kiranya kini aku tinggallah sendiri.

“Abi,” perlahan suara kecil itu terdengar begitu halus di sampingku.

“Umiii, Abiii,” lagi-lagi suara kecil itu terdengar memangil-manggil orang tuanya.

“ Aku segera bangkit dari pembaringanku, dengan tertatih menuju kerarah tubuh kecil itu.

Aku segera merangkulnya.

“Shinta,” ku peluk tubuh itu.

“Tubuh mungil itupun memelukku,” 

Entah apa yang merasukiku, aku bagai orang gila. Padahal aku tahu itu bukan anakku, bukan Shintaku.

“Abi, Ayya takut,”

Tubuh mungil itu semakin erat memelukku.

Mungkin saat itu bukan hanya aku yang merasa kehilangan, ada beribu jiwa yang harus menerima kenyataan bahwa Stunami itu telah menjemput jiwa-jiwa tersayang dalam kasih sayangNya.

Begitu juga aku.

                           ---------------------------

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun.

Ayya telah mengisi kekosongan hidupku.

Dan kini dia telah memasuki bangku sekolah dasar, Ayya tumbuh dalam kasih sayangku.

Kami mencoba merakit kembali hidup baru di sebuah desa yang nun jauh di sana, yaitu sebuah desa kecil yang letaknya di kaki gunung Seulawah.

Aku trauma dengan laut, jadi aku memilih memulai hidup baruku di daerah pegunungan. Dengan berbekal sisa tabungan aku membangun sebuah gubuk kecil, sebagai tempat tinggalku sekaligus tempat sumber pencarianku.

Yah aku membangun kedai kopi kecil, yang kemudian sudah sangat di kenal di daerah itu. Dan juga dikenal oleh pengunjung yang lewat. Karena tempatnya tepat di sisi jalan raya Medan Banda Aceh, dan juga khasnya kopi racikanku. 

                             ----------------------------

Ayya putriku adalah salah satu siswa yang berprestasi, hari ini aku menemaninya ikut perlombaan membaca puisi di Taman Budaya Banda aceh, mewakili siswa dari Aceh besar.

Tiba di dalam gedung aku menempatkan diri untuk duduk dibarisan paling belakang.

Yang menurutku dengan duduk paling belakang dan yang paling sudut aku punya kesempatan untuk menikmati pada setiap bait puisi yang dibacakan oleh putriku, tanpa gangguan orang yang lalu lalang.

Begitu cetarnya suara Ayya membaca bait-bait puisi di atas panggung, yang membuat tepuk tangan penonton bergemuruh. 

Tiba saatnya untuk mendengar sang juri membaca pengumuman, dan puji syukur putriku mendapat peringkat ketiga.

Dan sebagai penghargaan setiap peserta yang menang diminta membacakan puisi favoritnya.

Sungguh diluar dugaanku Ayya membacakan puisi terindah hasil goresannya yang dipersembahkan untukku, dengan judul “Ayahku adalah Malaikatku,” Semua peserta menikmati bait-bait indah yang dibacakan Ayya, kulihat banyak mata berkaca, banyak wajah dengan isak yang mendalam menghayati setiap kata dari Suara manja Ayya. Tak pelak sang juri meminta ayah dari Ayya untuk berdiri menerima piagam pernghargaan. Dengan kaki agak tertatih aku berdiri aku berjalan menuju ke atas panggung, yang membuat penonton semakin terharu, karena melihat keadaanku yang hanya berjalan satu kaki dibantu sebatang tongkat penyangga. Aku memeluk putriku dengan penuh haru. Tuhan terimakasihku padaMu yang telah menitip Ayya untukku seorang putri dari langit pada saat aku kehilangan harapanku.

Aku melihat paparazzi tak henti-hentinya memotrekku dan putriku, yang membuatku dan putriku jadi ratu pada hari itu.

                                    -----------------------------

Pagi ini sebuah mobil, sedan mewah berhenti tepat di depan kedaiku.

Dua sosok lelaki dan seorang perempuan turun .

“Selamat pagi, pak Yusuf,” sapa perempuan itu.

“Selamat pagi bu, silakan masuk,”sambutku

Seperti biasa pada setiap tamu yang datang aku menyambutnya dengan ramah.

“Mau pesan apa?,”akupun menanyakan pada ketiga pengunjungku tersebut

Mereka memesan kopi buatanku.

Aku pun menggantar kopi pesanan mereka.

“Bapak Yusuf, boleh saya Tanya sesuatu?,” perempuan itu membuka sebuah pembicaraan saat aku menggantarkan pesanan mereka

“Boleh, silakan ibu,” sahutku tanpa curiga sedikitpun

“Kenalkan, namaku Sarah, aku berasal dari Peukan Bilui, sebelum Stunami,” perempuan itupun memperkenalkan dirinya.

“Dan ini suamiku Alfian dan anakku Andre,” lanjutnya

“Hm ya,”aku menjawab perkenalan itu.

“Bapak, boleh aku bertemu dengan putri bapak?,” tanyanya padaku

Aku mulai curiga, Tuhan semoga ini bukan petaka baru bagiku.

“Boleh,”jawabku dengan tenang, menyembunyikan rasa curigaku pada mereka.

“Ayya, Ayya, sini nak, ada yang ingin bertemu denganmu,” akupun memanggil Ayya

“Ayya?,” Tanya perempuan itu

“Dia putriku, yang ingin ibu temui,” jawabku

“Ooo,” kulihat perempuan itu mulai gelisah

Dan…

“Ya Abi, siapa Abi yang ingin menemui Ayya?,” kulihat Putriku sudah berdiri di depan pintu gubuk kami

Perempuan itupun berdiri, dan …

Dia mulai menilik seluruh badaan anakku, mulai dari telapak tangan sampai ujung kaki.

“Ibu kenapa,”Tanya Ayya bingung

“Kamu mungkin anakku, nak,” perempuan itu mencoba menjelaskan

“Tapi…,” Ayya anakku terlihat bingung

“Abi…,” dia seakan memohon padaku

“Tak apa, jangan takut,” aku mencoba menenangkannya

“Iyya dia Alyaku,” perempuan itupun memeluk tubuh Ayya dengan sangat kuat

“Ayya, ini Umi nak, ini Umi,” 

Perempuan itu menangis histeris, aku bisa merasakan kerinduannya terhadap putri kesayangannya, yang bertahun ia cari, yang bertahun ia rindukan, yang bertahun dia harapkan dalam setiap doanya untuk dipertemukan kembali dengannya.

“Pak Yusuf, aku melihat tayangan TVRI saat Alya membaca puisi, dan tahi lalat di pergelangannya membuatku mencari tahu keberadaannya. Dan benar ia Alya anakku, yang selamat saat Stunami menghantam, sementara waktu itu aku berada di tanah Suci pak,” Bu Sarah mencoba menceritakankan kembali padaku saat Stunami menghantam Aceh dengan dahsyatnya, saat dia begitu yakin anaknya masih hidup, saat dia melewati hari-hari dengan pencariannya akan orang-orang yang ia sayangi termasuk keyakinannya bahwa putrinya Alya masih hidup.

Aku hanya duduk diam terpaku, tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Seakan cerita itu membawaku kembali kepada kisah silam yang sudah kukubur dalam-dalam.

Terasa seluruh badanku bergetar, antara sedih, terharu juga takut kehilangan.

Perseteruanpun bermula.

Aku berkeyakinan itu anakku, begitu juga perempuan itu.

Tinggal Ayya yang memutuskan, mana yang akan dipilihnya. Aku sebagai ayah angkatnya, atau ibu Sarah sebagai ibu kandungnya. 

“Sudahlah Yusuf, relakan saja Ayya ikut Uminya, lagian kamukan hanya ayah angkatnya. Lihat masa depan Ayya Yus, dengan bu Sarah masa depan Ayya akan cemerlang,” pak Keuchik sebagai orang tua kampungku sekaligus orang yang sangat dekat denganku mencoba menasehatiku saat itu.

                                      -------------------------

Hari ini tanggal 26 Desember dan merupakan tahun kesepuluh Stunami menghantam negeriku. Dan adalah bulan ketujuh aku harus melepaskan Ayya meninggalkanku dalam kesendirian yang teramat panjang.

Hari-hari ku lalui seakan membawa kembali luka yang sudah kukubur teramat dalam.

Dan hari ini aku datang kepemakaman masaal yang ada di Ulee lee, ada serangkaian doa yang ingin kupanjatkan.

“Untukmu putriku Shinta, dan untukmu kekasih hatiku Fatma. Aku berharap secepatnya bisa berkumpul dengan kalian,” tubuhku gemetar menahan rasa sedih yang teramat dalam.

Seakan hidupku tiada lagi punya harapan, seakan hidupku sudah selesai untuk kuperjuangkan.

“Abi,”sebuah suara yang sangat kurindukan memangilku

“Ayya, kenapa kamu di sini nak,” tanyaku seraya memeluk tubuh mungil itu

“Abi, Ayya tidak ingin meninggalkan Abi,” isaknya pecah, membuat tubuhku semakin bergetar, menahan rasa, rasa yang sulit untuk kuungkapkan.

“Umi Sarah telah mengizinkan Ayya, untuk ikut Abi,” 

“tapi…,” aku kebingungan

“Iya pak Yusuf aku tidak bisa memaksa kehendak supaya Ayya bisa ikut denganku,” kulihat perempuan dengan kaca mata hitam yang begitu modis itu menjelaskan.

“Jadi hari ini, biarlah Ayya memutuskan dengan siapa ia melanjutkan hidupnya,” lanjutnya.

“Aku mohon, hendaklah engkau menjadi malaikat tak bersayap dalam hidupnya, seperti dalam puisi yang dibacakannya tempo hari, yang selalu menjaganya, yang selalu merangkulnya, yang selalu membacakan kisah-kisah indah pada setiap malamnya, yang semua itu tidak bisa kuberikan,” dengan terisak wanita itu memohon padaku. Dan kemudian iapun berlalu, aku tahu ada luka dalam kata-kata itu.

                                    -------------------------

“Sesampai di rumah aku baru memahami, ternyata selama bersama Uminya Ayya mengalami banyak tekanan, terutama dari Abi tirinya dan juga dari Andre saudara tirinya.

“Abi, seandainya Abi mau, jemput Umi Sarah untuk tinggal bersama kita,” putriku mulai meminta sesuatu yang aneh bagiku setelah menjelaskan tentang bagaimana kehidupan Sarah ibu kandungnya.

“Ah Ayya, lihat kehidupan Abi,lihat kehidupan Umi Sarah. Mana mau Umi Sarah ikut sama kita,” jelasku asal saja.

“Nanti Ayya akan cari tahu ya. Tapi kalau Umi Sarah mau ikut sama kita, Abi mau tidak menerimanya?,” putriku seakan berkata penuh harap. Ada guratan bahagia di mata mungilnya saat mengatakan kalimat itu.

“Mau,” jawabku, asal saja

“Mau?,”terlihat kerut keningnya 

“Mauuu,” jawabku asal saja, asal saja

“Yee Ayya akan punya Abi dan Umi seperti teman-teman yang lain,” teriaknya dan merangkul pundakku penuh manja,

“I love you Abi, I love Abi,” dengan penuh sayang dia mencium keningku

Kamipun tertawa bahagia.

“Assalamualaikum,” terdengar sebuah suara di baliik pintu gubukku

“Waaalikumsallam,” jawabku

“Umi Sarah,”

Ayya cepat-cepat turun dari pangkuanku dan membukakan pintu.

Dan… kulihat wajah yang selalu tertutup kacamata hitam itu penuh memar.

“Kami sudah resmi bercerai, izinkan aku untuk hidup bersama putriku,” Sarah meminta padaku, setelah panjang lebar menceritakan perjalanan hidupnya setelah Stunami menghantam dan kemudian dinikahkan kembali oleh keluarganya dengan seseorang yang tidak lain adalah adik laki-laki ibu tirinya.

“Ayya mau ikut Umi tapi Juga Ayya ingin ikut bersama Abi,” jawab Ayya diluar dugaanku.

                                            --------------------

Kini tahunpun telah berganti kami telah melanjutkan kehidupan baru di sebuah kota kabupaten tempat Umi Ayya dilahirkan yaitu di Lebak,

 Banten dengan hasrat melupakan luka-luka yang pernah ada.

Bersama Sarah, dan Alya Izzara putri dari langit yang TUhan utuskan untukku.


By: Yuna

Bireuen,26122020

#Dalam hening malam aku mengingatmu “ayah bunda”

#Alfatihah,lewat doa kusampaikan rasa rinduku

#juga untuk seluruh keluargaku baik di Sigli maupun Banda Aceh 

#Alfatihah, semoga Tuhan tempat kalian di sugaNya yang tinggi


*Tulisan ini dikutip dari Facebook Mbak Yuna (tanpa ada penambahan ataupun pengurangan)