Opini

Politik Loyal dan Politik Royal

Politik Loyal dan Politik Royal

Oleh : Muhammad Luthfi 

Dalam dunia politik hampir semua pergerakan membutuhkan finansial yang cukup. Politik tanpa uang dianggap sebuah kenaifan dan keaiban. Seakan dunia politik, hanya berisi orang orang kaya raya dan melimpah harta. 

Di sisi lain, politik identik dengan cara menelurkan gagasan dan kebijakan untuk di implementasikan dalam kehidupan sosial masyarakat. Tentu dan pasti bahwa gagasan dan kebijakan paling luhur dan paling cerdas yang akan di putuskan dalam kesepakatan politik bersama, baik itu di parlemen (legislatif) maupun di eksekutif.

Untuk memperoleh kekuasaan, para politisi membutuhkan mandat dari rakyat melalui pemilihan umum. Saat mandat sudah diterima (terpilih) maka para politisi bekerja untuk kepentingan rakyat. Ketika sedang bekerja para politisi menghadapi berbagai godaaan, baik berupa uang maupun jabatan (penyelewengan kewenangan).

Memilih loyal pada gagasan, ide dan kebijakan yang mulia atau malah mengkhianatinya. Menjalankan kehidupan yang penuh royal atau yang bersahaja.

Kecenderungan orang orang di politik memilih pengkhianatan atas loyalitas pada gagasan dan kebijakan yang luhur. Memilih royal dalam gaya hidup. Semua itu dilakukan demi eksistensinya dalam dunia perpolitikan.

Hanya sedikit dari politisi yang loyal pada gagasan dan kebijakan yang luhur. Sedikit pula yang bergaya hidup tidak royal. Maka sebuah tugas mulia partai politik untuk memperbanyak politisi yang loyal pada ide dan kebijakan mulia, dan yang tidak royal.

Rakyat juga punya andil sangat besar dalam politik, yaitu ketika pemilu memilih orang-orang yang loyal pada gagasan dan kebijakan mulia, yang sekaligus tidak royal. Dengan demikian mudah mudahan akan berdampak pada kesejahteraan dan keadilan.

*penulis adalah seorang penikmat kopi