Meseugit Tuha dan Peran Sosial Tengku Chik di Pasi
Oleh : Martunus
Terletak di Gampong Guci Rampong, Kec. Simpang Tiga, Pidie. Meuseugit Tgk Chik di Pasi menyerupai arsitektur meuseugit-meuseugit Aceh era kesultanan Aceh Darussalam. Misalnya Meuseugit Tuha Lueng Bata, Meuseugit Tuha Tgk Chik di Tiro, Meuseugit Tuha Indrapuri dll yang memiliki atap yang berbentuk limas segi empat dan terdiri dari dua atau tiga tumpuk.
Ciri khas lainnya adalah tameh-tameh (pillars) yang menopang atap yang berjumlah 16 (seperti di meseugit Tgk Chik di Pasi) dan 36 seperti di meuseugit Tuha Indrapuri. Juga ada Trieng Purieh yang bersandar pada tameh utama dalam meuseugit yang berfungsi sebagai rinyeun (tangga) yang digunakan Bileu untuk naik ke atap guna mengumandangkan adzan.
Khusus di Meuseugit Tgk Chik di Tiro dan Meuseugit Tgk Chik di Pasi (dua meuseugit tuha yang pernah saya kunjungi), Trieng Purih yang berusia ratusan tahun masih eksis hingga kini. Trieng Purieh adalah Trieng yang memiliki atot yang kokoh dan beda dengan Trieng2 lainnya sehingga kuat untuk dijadikan tangga.
Tgk Chik di Pasi salah satu dari Ulama-ulama Aceh yang banyak disebut di banyak literatur, misalnya di Buku Jaringan Ulama Nusantara abad ke-XVI & XVII dan makalah2 yang memaparkan peran Ulama sebagai penggerak kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Masterpiece beliau dalam hal pembangunan adalah Saluran Irigasi Lueng Bintang sejauh 25 KM dari Titeu Keumala hingga ke Kec. Simpang Tiga, Pidie. Banyak legenda tentang proses pembuatan Lueng Bintang ini, yang paling masyhur adalah beliau menaruh tongkat di tanah, menarik tongkat tersebut hingga menjadi saluran irigasi. Proses itu disebut sebagai karamah yang dimiliki oleh Tgk Chik di Pasi.
Perspektif lain tentang proses pembuatan saluran irigasi Lueng Bintang adalah, Tgk Chik di Pasi adalah Ulama yang menggerakkan pembangunan di Pidie dengan memobilisasi masyarakat, memimpin mereka mengerjakan saluran irigasi Lueng Bintang hingga selesai. Perspektif kedua ini lebih masuk akal dan tidak mengurangi kemuliaan beliau sebagai Ulama dan sebagai Pemimpin serta Penggerak.
Sebab hal serupa dilakukan oleh Rasulullah SAW saat memimpin para sahabat menggali parit di perang khandaq. Tentu mudah bagi Rasulullah atas izin Allah jika hanya menarik tongkat di tanah kemudian menjadi parit. Namun proses manusiawi yang ditampilkan oleh Rasulullah dalam hal kepemimpinan yang saya rasa diikuti oleh Ulama2 seperti Tgk Chik di Pasi, Tgk Chik di Reubee, Tgk Chik Trueng Campli, Abu Beureueh dll.
Tgk Chik di Pasi juga meninggalkan legasi berupa naskah khutbah dan Alquran yang beliau tulis dengan tangan beliau sendiri. Alquran tersebut sering dikeluarkan saat khanduri blang, untuk dibaca dan diambil karamahnya. Dua Guci Tuha dan sebongkah batu sebagai pijakan beliau saat mencuci kaki sebelum menaiki meuseugit juga masih eksis hingga kini.