Lifestyle

Ini Dia Desa Terindah Ke 3 di Dunia Yang Terletak di Indonesia

Published

on

Ini Dia Desa Terindah Ke 3 di Dunia Yang Terletak di Indonesia

BANGLI - Indonesia pun menempatkan perwakilannya dalam tiga Desa yang dikategorikan terbersih di dunia, desa tersebut terletak di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali yaitu Desa Penglipuran. Desa yang terkenal dengan jalan yang bersih ini terdapat banyak taman yang membuat mata manja dan disetiap 30 meter terdapat tempat sampah.

Memang Desa Penglipuran ini sudah ditetapkan sebagai desa wisata sejak 1995, siapapun boleh berkunjung namun harus menjaga kebersihan, jaraknya berkisar sekitar 45 km dari Denpasar.

Desa Adat Penglipuran ini telah mendapatkan penghargaan Kalpataru dan salah satu desa yang dijadikan sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) dikabupaten Bangli, di desa ini selain indah juga rukun antar sesama.

Seperti dilansir Intisari.grid.id bahwa Desa Adat Penglipuran ini sudah ada sejak 700-an tahun silam pada masa kerajaan Bangli.

Nama Penglipuran sendiri berasal dari kata Pengeling Pura yang berarti tempat suci untuk mengingat para leluhur. Salah satu hal unik yang ditemukan di Desa ini adalah mampu mempertahankan tradisi yang sudah beratusan tahun. Pengembangan fisik Desa dan perkembangan budanyanya tetap mengacu pada tanah leluhur, hingga untuk bermacam upacara adat mesti memohon restu ke tanah keleluhuran.

Selain itu, di Desa ini juga bebas dari kendaraan roda empat dan tidak menggunakan aspal namun menggunakan paving block dan batu sikat, rumah yang terdiri di setiap kaveling hampir sama, berada dalam pekarangan dan dibatasi oleh pagar tembok serta mempunyai gerbang khas Bali sebagai pintu masuk.

Setiap pekarangan mempunyai beberapa bangunan berupa ruangan tidur, ruangan tamu, dapur, balai-balai, lumbung dan tempat sembahyang. Antara satu pekarangan dengan pekarangan lainnya terdapat jalan sempit yang menghubungkan keduanya.

Bangunan berarsitektur tradisional dengan material tiang dari kayu dan atap yang khas dari bambu menjadi salah satu keunikan bangunan di Penglipuran.

Penggunaan bambu yang cukup dominan merupakan salah satu bentuk kearifan dalam memanfaatkan bahan alami yang ada di sekitarnya, 40 persen wilayah Penglipuran adalah hutan bambu. Material untuk bangunan bisa diambil dari hutan tersebut. Selain untuk bangunan, bambu juga digunakan sebagi bahan kerajinan dan kebutuhan untuk ritual.

Dari sisi ekologis, hutan bambu sangat penting untuk menahan erosi mengingat kondisi lahan desa yang miring.

Wilayah desa dibagi ke dalam tiga ruang yang berbeda berdasarkan fungsi, yaitu utama, madya dan nista. Letak ketiga ruang ini membujur dari utara (gunung) ke selatan (laut), dengan jalan desa lurus berundak sebagai poros tengah, memisahkan ruang madya menjadi dua bagian.

Di paling utara pada zona utama atau “ruang pada dewa”, berdiri bangunan suci pura bernama Penataran tempat beribadah para penduduk desa. Adapun zona madya atau “ruang manusia” terdapat 76 petak pekarangan dan rumah tempat bermukim warga terbagi ke dalam dua jajaran, yaitu barat 38 dan timur 38. Bagian paling selatan adalah nista mandala atau “ruang bagi manusia yang telah meninggal” berupa tempat pemakaman penduduk desa.

Penataan struktur Desa Penglipuran tersebut tidak lepas dari budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat adat Desa Penglipuran yang sudah berlaku turun temurun. Perpaduan tatanan tradisional dengan banyak ruang terbuka dan taman yang asri membuat para wisatawan merasakan nuansa Bali pada jaman dahulu.

Keteraturan yang ada di Desa Penglipuran ini tidak lepas dari konsep tata ruang yang disesuaikan dengan konsep tata ruang dalam ajaran Agama Hindu, yaitu Tri Mandala.

Kegigihan para penduduknya untuk memperjuangkan keaslian desa juga patut mendapat penghargaan, tidak mengherankan jika desa Penglipuran pernah memperoleh anugerah Kalpataru.[007]


Sumber : Intisari.grid.id