Opini

Zahra Remaja Malang Korban Kegagalan Pemerintah di Bidang Kesejahteraan

Zahra Remaja Malang Korban Kegagalan Pemerintah di Bidang Kesejahteraan

Oleh: T. Darul Makmur

Belum lama ini, masyarakat netizen tersentak, terperenyak dihebohkan oleh berita yang sangat menyayat hati, berita tentang seorang remaja yatim piatu bernama zahra yang harus bekerja sebagai kuli bangunan demi menyambung hidup.

Remaja kecil yatim piatu yang berdomisili di Gampong Uteunkot Kota Lhokseumawe ini bersama ibunya dan tiga saudara kandungnya tinggal di sebuah gubuk yang beralaskan tanah dan beratapkan terpal.

Ketika kebanyakan gadis seusianya menikmati masa belajar dengan fasilitas berkecukupan, namun tidak dengan Zahra yang saban hari mengais rejeki untuk menukupi kebutuhan diri dan keluarga. Ia memang masih bersekolah, tapi pendidikan yang ia jalani, tidak seefektif remaja lainnya.

Kita sewajarnya menggugat dan mencela Pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah Aceh dan pemerintah kota Lhokseumawe karena telah lalai dan tidak pro aktif terhadap kesejahteraan masyarakat kalangan bawah. Tidak jarang kerja pemerintah itu seperti pemadam kebakaran, harus diberitahu dahulu baru mengambil tindakan. Ini suatu kebobrokan pemerintah yang tidak patut dan pantas.

Jika kita merujuk pada konstitusi, maka mensejahterakan dan menjamin pendidikan warga negara adalah tujuan bernegara yang dimandatkan pada pemerintah pusat dan daerah. Ironinya, pemerintah seperti tidak memiliki beban moral dalam melaksanakan tugasnya sebagai abdi negara. Sehingga kita masih menemukan kasus seperti kasus Zahra dan kasus serupa lainnya yang belum terekspos di ruang publik.

Jika kita mengkaji lebih dalam dan radikal mengenai tupoksi pemerintah dalam menjalankan konstitusi bernegara, maka kita semua akan meyakini bahwa kejadian seperti yang dialami Zahra, merupakan kegagalan pemerintah untuk memenuhi hak-hak dasar warga negara, dengan kata lain pemerintah telah lalai menegakkan hak asasi manusia.

Pemerintah Daerah harus berbenah diri dalam menjalankan fungsinya, bukan asik memperkaya diri dan kelompoknya hasil rampokan uang negara. Sehingga kita akan menemukan masih banyak lagi masyarakat Aceh yang mengalami nasib seperti Zahra.