Opini

SAMPAI KAPAN SAUDI?

Published

on

Oleh : Taufik M. Yusuf Njong 

Awal tahun 2015, di asrama WAMY (World Assembly of Muslim Youth) komplek Mujahidin Khartoum Sudan,  seorang Ustad dari Yaman di undang untuk memberikan ceramah tentang kondisi Yaman  pasca kudeta Jama'ah Houtsi terhadap pemerintahan sah di Shan'aa ibukota Yaman. Para penghuni asrama yang terdiri dari mahasiswa Indonesia (mahasiswa asal Aceh dan NU) dan negara-negara Asia Tenggara lain dikagetkan dengan fakta yang disampaikan penceramah bahwa KSA juga berperan dalam memuluskan kudeta Houtsi terhadap Shan'a karena ketakutannya terhadap makin meluasnya pengaruh Partai Al-Islah yang berafiliasi ke IM. Mengutip beberapa surat kabar Yaman, beberapa tokoh jama'ah Houtsi sempat  mengadakan pertemuan rahasia dengan Dubes Saudi di kedutaan besar Saudi di Yaman beberapa waktu sebelum kudeta.  

Jika kita beranjak ke Suriah, baru-baru ini juga terdapat berita yang mengagetkan. 08-04-2020  Middle East Eye melaporkan bahwa Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed Bin Zayed mendorong Assad dengan bayaran 3 miliar USD untuk menggagalkan gencatan senjata di Idlib, menghancurkan kekuatan oposisi dan Turki yang menguasai Idlib. Perlu diketahui bahwa UEA adalah salah satu sponsor dan penyokong utama oposisi Suriah melawan rezim Assad selama rentang waktu 2011 sampai 2016. Sama halnya dengan Saudi yang menjadi penyuplai senjata untuk FSA (Free Syrian Armi) sebelum kemudian 'membelot' dan malah mendukung SDF (Syrian Democratic Forces) aliansi Kurdi yang juga di dukung AS.

Di Libya, UEA pada awalnya juga adalah negara yang mendukung penggulingan Muammar Qaddafi, namun setelah kudeta terhadap presiden Mursi yang disponsori oleh UEA dan Saudi di Mesir berhasil, UEA dan Saudi balik mendukung Jenderal Khaliafa Haftar (seorang jenderal di era Qaddafi) untuk membendung pengaruh IM dalam GNA (Government of National Accord) yang didukung Turki dan Qatar serta dunia internasional.

Atraksi dan permainan politik pragmatis Saudi/UEA dikawasan bukanlah hal baru. Tahun 1948 ketika Abdullah Al-Wazir melakukan revolusi undang-undang dengan dukungan Ikhwan terhadap Kerajaan Syi'ah Zaidiyah (Mutawakkilite Kingdom of Yemen), Saudi kemudian balik mendukung revolusi tandingan sehingga revolusi gagal dan Kerajaan Zaidiyah tersebut bertahan hingga tahun 1962. Ketika 26 September 1962 terjadi kembali revolusi (yang di dukung oleh rezim Gamal Abdul Nasir) di Yaman kontra Kerajaan Mutawakkilite, Raja terakhir Mutawakkiliah Muhammad Al-Badr Hamid Ad-Din lari ke Saudi. Dari Saudi dan dengan dukungan KSA, ia melancarkan revolusi tandingan yang berlangsung selama tujuh tahun lebih. 

Gamal Abdul Nasir yang saat itu ingin mengembalikan pamornya setelah bubarnya Republik Arab Bersatu (penyatuan Mesir dan Suriah dibawah paham sosialisme) tahun 1961 mengirimkan 70.000 pasukan Mesir ke Yaman. Yaman waktu itu benar-benar menjadi seperti Vietnam bagi tentara Mesir. 26.000 tentara Mesir tewas dan lebih dari 1000 tentara Saudi juga menemui ajalnya. Meskipun revolusi tandingan tersebut gagal mengembalikan Kerajaan Mutawakkiliyah berkuasa di Yaman, tapi revolusi tandingan itu berhasil memaksa Mesir keluar memalukan dari Yaman dan menjadi salah satu sebab kekalahan Mesir dalam Peran Arab Israel (perang 6 hari) tahun 1967.  

Mesir dengan Pan Arab yang berhaluan sosialis adalah ancaman bagi monarki absolut Saudi. Pada dasarnya, setiap kekuatan apapun dikawasan adalah ancaman bagi Saudi, Mesir dibawah Abdun Nasir, Iraq dibawah kepemimpinan Saddan serta Suriah dibawah rezim Assad. Kemudian ada Iran dan Syi'ah yang menjadi musuh besar di kawasan. Selain itu, IM yang puluhan tahun mesra dengan Saudi juga mulai dianggap ancaman setelah perang teluk dan setelah kepentingannya kontra komunisme selesai di Afghanistan. Dan setelah Arab Spring IM pun menjadi salah satu musuh utama . Terakhir, negara yang dimusuhi Saudi tentu saja rongsokan kekhalifahan Turki Utsmani yang coba dibangkitkan kembali Erdogan. 

***

Dari penjelasan terdahulu, bisa dipahami sikap prakmatis Saudi di kawasan. Mesir era Abdun Nasir yang merupakan musuh besar Saudi kini menjadi sahabat karib ketika Mesir melemah. Ikhwan yang pernah mesra kini menjadi teroris.

FSA yang luluh lantak dibombardir Rusia di Suriah dibiarkan mati perlahan. Tidak terlalu penting bagi Saudi kebebasan bangsa-bangsa Arab dari kediktatoran, tidak terlalu penting bagi Saudi revolusi ataupun perbaikan politik di negara-negara Arab terlebih jika berbau politik Islam. Tidak terlalu penting bagi Saudi idealisme dan tidak terlalu penting bagi Saudi kehancuran Iraq, Afghanistan, Suriah, Libya, Yaman dan lain-lain. 

Ketika para penuntut ilmu di Univ Ummul Qur'an KSA di evakuasi ke hotel mewah dan viral di dunia Maya, saya membayangkan dengan getir puluhan ribu para balita dan anak-anak Yaman dan negara islam lain yang mati kelaparan. Tiba-tiba saya bertanya pada  diri sendiri apakah kekayaan alam Saudi adalah semata-mata milik penguasa? Atau umat Islam di tempat lain juga mempunyai hak untuk menikmatinya?

Wallahu a'lam.