Sadar gak, Ternyata Saat Pilkada Kita Pilih penguasa, Bukan Pemimpin lho...
Oleh: anfi*
Momentum pilkada tahun 2020 ini, ada baik kita refleksi kembali, sebenarnya untuk apa sih kita susah payah datang ke TPS lalu nyoblos? Toh, akhirnya kehidupan kita sebagai rakyat yang lemah ini, tidak ada perubahan dari hari ke hari, bagaikan tidak punya pemimpin aja. Ia benar, kita macam dikuasai tapi bukan dipimpin.
Kok bisa begitu ya, bukankah penguasa dan pemimpin tu sama saja ya, cuman beda sebutan saja kan, intinya adalah yang menerima mandat dari rakyat untuk mengelola pemerintahan. Oops, jangan salah....
Dalam kamus kbbi penguasa itu asal kata kerjanya adalah menguasai yang artinya mengenakan kuasa (pengaruh dan sebagainya) atas sesuatu atau seseorang. sedangkan memimpin artinya melatih, mendidik, mengajar, membimbing, menuntun, supaya dapat mengerjakan sesuatu.
Dari kamus kbbi, kita sudah bisa melihat perbedaan yang mencolok, silahkan pembaca mencerna sendiri dan bisa juga cari informasi yang lain, mengenai istilah menguasai atau memimpin tersebut.
Dalam sejarah juga, kita sejenak teringat bahwa kalau kata penguasa itu identik dengan makna negatif perilakunya, seperti penguasa firaun dan hitler. Sedangkan pemimpin dilekatkan pada seseorang yang bertanggung jawab. Seperti dalam hadis yang sangat populer dibacakan para pemuka agama islam yang berbunyi, "setiap kalian adalah pemimpin, dan seriap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.
Dengan demikian, sangat wajar selama ini kebanyakan yang kita pilih itu bukan seorang pemimpin yang sebenarnya yang mampu membimbing masyarakat dan mengarahkan daerahnya dalam pembangunan ke arah lebih baik. Justru sebaliknya, dalam kontestasi pilkada, kita seringkali disuguhkan penguasa penguasa yang haus akan kekukasaan dan materi dunia. Yang saat berkuasa, tidak malu melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)
Namun demikian, dalam kepesimisan kita harus terdapat keoptimisan, bahwa dalam pilkada yang digelar dimasa depan, bakal muncul kandidat pemimpin yang sebenar benarnya, yang rakyat cinta mereka, mereka cinta rakyat
*penulis adalah penikmat film negeri sakura