Sastra

Ibu Yang Selalu Bersyukur

Published

on

Ibu Yang Selalu Bersyukur

Oleh : Arifandi (SPMA Bireuen)*

Gubuk yang terletak dipinggir sawah pada sebuah pedesaaan itu terlihat cantik oleh dihiasi pemandangan ragam bunga yang membuat mata yang melihatnya dibuat manja. Semantara disudut pekarangan gubuk nampak berjajar pohon pisang yang buahnya hampir matang.


Ayunan kaki saya lambat laut sampai didepan pintu pagar depan yang dibuat dari buluh,pagar yang dibuat dari pelepah pohon rumbia.baru saja aku berhenti dipintu pagar itu, tiba tiba terdengar suara orang dari dalam pekarangan.


" Nak, ada perlu apa ya, ada yang bisa ibu bantu ?", tanya seorang wanita yang diperkirakan berumur lebih kurang 55 tahun itu.


" Ndak ada apa- apa buk, cuman melihat pekarangan yang dihiasi oleh bunga mawar itu, cantik dan rapi". Oh begitu nak, sahut ibu tadi sambil mengajak anak muda itu masuk ke dalam halaman rumahnya dan dipersilahkan duduk di sebuah balai kecil yang berada samping depan gubuk beratap rumbia tersebut.


Ibu itupun bergegas kedalam gubuk dan selang beberapa saat sang wanita ua itupun keluar dengan membawa secangkir teh manis dan beberapa potong buah singkong yang sudah direbus.


****


Anak muda  yang sudah duduk di balai kecil mengamati yang dibawa ibu sambil berkata " Nggak usah repot repot buk?".


" Nggak apa apa nak, minumlah, ibu hanya mampu menjamu nak ini dengan sealakadar, nggak apa apa kan " , tanya ibu tadi.


"nggak apa apa buk, malah ini ngerepotin ibuk, ya sudah saya minum dulu buk ya".


Usai menikmati teh yang dihidang oleh wanita tua itu, sang pemuda menanyakan kepada si ibu yang sama sama duduk di balai kecil atau dalam bahasa Aceh (Jamboe che'k -red)


"ibu tinggal sama siapa, pekarangan ini terlihat rapi walau penuh dengan berbagai macam tanaman muda, palawija dan lainnya" tanya pemuda


"Semenjak suami saya meninggal 6 tahun yang lalu karena sakit jantung ,maka saya tinggal seorang diri digubuk tua ini" jawab si ibu dengan wajah murung.


Sipemuda itu kembali melanjutkan pembicaraannya, "emang anak ibu kemana dan bagaimana ibu mencukupi kebutuhan perhari".


Dengan wajah sedih ibu itu menjawab, "anak saya sudah meninggal nak, saat dia berusia 15 tahun".


"Seperti yang nak ini lihat sekeliling, hasil pertanian ini akan membantu ibu dalam meneruskan sisa hidup ibu, walau tidak mencukupi namun ibu bersyukur masih bisa merasakan nikmat Tuhan, bisa makan singkong saja untuk kebutuhan hidup bagi ibu sudah syukur sekali, maklum kami bukan keluarga berada yang ditinggalkan harta melimpah" ujar sang ibu.


"Nak ini sebenarnya hendak kemana, dan dari mana asalnya karena ibu tidak melihat anak ini didesa ini dan desa, desa tetangga", sang ibu balik bertanya.


Sambil tersenyum anak muda itu menjawab "saya dari seberang sungai sana buk, dikawasan yang setiap saat ramai dan banyak melintasi kendaraan (sebut saja kota), saya kesini hanya keliling keliling buk karena mumpung libur jadi saya berinisiatif untuk mengunjungi desa desa".


****


Ibu itu kemudian mengatakan pada anak muda "nak, hidup ini kita harus bersyukur atas nikmat yang tuhan berikan kepada kita, jangan hanya baru sedikit diberikan cobaan sudah mengeluh dan mengatakan Allah tidak sayang pada kita, padahal Allah menguji kita, apa kita bersyukur dan mau memohon atau hanya mengeluh yang tidak jelas", tutur wanita itu.


"Dengan keadaan hidupku yang seperti ini, saya enggan mengatakan diri saya ini miskin karena saya menilai masih mampu untuk mencukupi kebutuhan dan itu syukur sekali".


"Banyak diluar sana, hidupnya bermegah megahan, tinggal digedung bercakar langit tapi sayang tiada rasa syukur dan dusta terhadap nikmat Allah, sangat kita sayangkan", tutur ibu pada sipemuda.


Dengan penuh takjub sipemuda mengucapkan Subahanallah, "jarang menjumpai sosok yang begini yang mempunya rasa syukur tinggi serta tidak mudah menyerah, ini menjadi sebuah motivasi bagi saya yang hidup serta berkecukupan namun kadangkala lupa bersyukur", Gumam sipemuda dalam hati.


****


Suasana sore mengakhiri obrolan anak muda itu dengan sang ibu, ada beberapa pelajaran yang didapatkan yang akan membuat pemuda tersebut mengingat apa yang diucapkan ibu tadi. Sosok wanita tadi emang sudah tua tapi semangatnya yang membara membuatnya giat dalam bekerja, hidup dalam kecukupan dan kadangkala serba kekurangan membuatnya tidak luput memuji Rabb dan selalu bersyukur.


"Hari sudah sore,saya hendak pamit buk balik ke kota, lain kali saya kemari, semoga ibu diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah atas syukurnya kepada Allah SWT",tutur pemuda.


Sebelum ibu tua itu menjawab, sang pemuda mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya untuk diberikan kepada sang ibu sambil menyalaminya.


"Hati hati nak, main main kesini bila engkau ada waktu nak".


"Jangan lupa selalu bersyukur dan memuji rabb selaku hambaNya",pinta sang ibu.


Pemuda itupun berlalu meninggalkan ibu tua bersama gubuk itu melangkah pulang ke rumahnya.[Redaksi]