Sambut HUT RI Ke 73 Tahun Gelar Pawai Obor, Ini Kata BIF FPI Bireuen
BIREUEN - Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI yang Ke-73 dikabupaten Bireuen, begini kata Badan Investigasi Front (BIF) FPI Bireuen, Jumat 17/08/18.
Dalam Menyambut Hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, semestinya tidak perlu melakukan pawai obor api apian dijalan karena itu bukan budaya kita sebagai umat islam.
Bukan halnya tidak mendukung tapi apalagi dimalam kemuliaan yaitu malam jum'at sebaiknya dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke-73 ini dilakukan zikir dan doa bersama.
Guna melakukan tersebut adalah mengucapkan syukur kepada Allah yang hingga kini masih memberikan NKRI tetap utuh dan berdoa kepada para pahlawan yang yang telah wafat dalam melawan kolonialis Jepang dan Belanda kala merebut kemerdekaan.
Detik detik Indonesia merdeka bukan dengan membawa api apian akan tetapi berkat doa ulama dan perjuangan para pejuang bangsa, negara ini merdeka.
Begitu kita kenang kala para pejuang terkupas kulit dari badan, berlumuran darah hingga terpisah nyawa dari badan demi kemerdekaan dari penjajahan kolonialis, tapi kita selaku penerus bukannya mengucapkan syukur seperti berzikir kepada Allah dan memanjatkan doa untuk para syuhada, bukan menyambut dengan pawai obor.
Lanjut Iskandar ( Tuih Alkhair), bukannya saya tidak menyetujui dan melarang tapi apa alasan menyambut hari bersejarah dengan membawa api apian dijalan, sehingga tanpa kita sadari apa yang kita lakukan itu pernah dilakukan oleh kaum majusi persia dan malah menjadi budaya kaum majusi persia.
Jikalau ingin mengenang dan memperlihatkan bagaimana kontribusi berbagai kalangan dalam merebut kemerdekaan sejarah, cukup dengan melakukan karnaval dengan menampilkan pakaian pahlawan yang dilakukan oleh anak anak sekolah baik pakaian kesehatan, kepolisian, TNI lengkap dengan senjata mainan, adat istiadat daerah serta ragam modif benda yang dibuat sedemikian rupa, baik tank, helikopter dan lainnya.
Maka dari itu kami FPI Bireuen mengajak semua elemen baik masyarakat atau dari instansi pemerintahan agar belajar kembali bagaimana melakukan sesuatu perayaan yang dapat mencermin nuansa keislaman dan bersyariat sehingga budaya islam bangkit dan tidak mampu dikalahkan oleh budaya budaya barat tentunya(kafir) karena ini Aceh dan Bireuen khususnya, tuturnya.[AF]